Senin, 12 Januari 2009

Balada WaitBod III

>“…Ada trend penggunaan foto diri akhir2 ini”

Model pada puncaknya disebut, supermodel, istilah yang mula disemat pada Cindy Crawford, model tenar asli Amerika tahunan lalu. Lalu ia kini disebut-sebut saban hari , sekerap dunia petantang petenteng di dunia kecil kita.

“Supermodel adalah model fashion yang dibayar tinggi dan biasanya memiliki reputasi dunia dan sering memiliki latar belakang dalam haute couture dan permodelan komersial.[1] Istilah ini digunakan pada budaya populer tahun 1980-an sampai 1990-an. Contoh supermodel adalah Gisele B√ľndchen dari Brasil dan Heidi Klum dari Jerman. (www.wikipedia.com)”

Turunan dari penyebutan diatas diantaranya : model amatir, model iklan (seseorang yang memampangkan tampilan di iklan tv,radio,majalah,dsb) , model sampul majalah (biasanya wajahnya diperbanyak di sampul-sampul majalah). Penyebutan ini didasarkan pada pekerjaan.

Sekali lagi ,

“Model adalah rencana, representasi, atau deskripsi yang menjelaskan suatu objek, sistem, atau konsep.(www.wikipedia.com).”
Lalu,

MEMPOSEKAN diri di pinggir-pingir badan jalan, pada tembok beton gedung, menempel di tiang-tiang listrik, pada sudut-sudut persimpangan jalan, pada body kendaraan roda empat, pada objek yang visible. Hal ini yang bikin area public di kota ini seperti pasar pajangan poster, di sudut terminal sana.

Mau yang berwajah oval, tirus, lonjong ?, atau berkulit hitam, sawo matang, putih?, atau suka pada yang kurus, gemuk, atletis ?, senang pada pose senyum, jempol ke atas, jas diselempangkan bahu ?, atau pada pose santai gemulai, dengan baju gaul ?, berpeci dan berbaju koko?, bisa jadi pada wajah berkumis senyum merekah ?, konon ini tampak manis dan bikin gemes.

Keriuhan sketsa wajah beserta teks dengan font ragam karakter memenuhi mata awam, sehingga sepertinya tiada tempat di kota ini tanpa foto. Ada trend penggunaan foto diri akhir-akhir ini. Foto dari mereka dinyatakan lolos verifikasi oleh Komisi Pemilihan Umum, dari mereka yang mengusung agenda mirip bait lagu KD, “…Pilih lah aku jadi Pacarmu CALEG MU”.

Ragam foto caleg tersebar dalam bentuknya rupa-rupa medium komunikasi grafis (Poster, Spanduk, Baligho, Koran , Kalender, Pin, baju kaos, bahkan spot radio). Ukurannya pun beragam pula, ada yang kecil, besar, sangat besar tergantung jenis media yang digunakan. Tergantung jua dengan besaran kocek dikantong.

Bila keriuhan ini bahagian dari sebuah pesta, pesta demokrasi kini dinamai, maka kurang lebih 100 hari kedepan, pemandangan jangkau mata tak lepas dari foto-foto tersebut. Kecuali pandangan anda ke langit, atau ke tanah. Dan ini lah maksud dari semuanya.

Bukan hendak me_narsis_kan diri, atau too selfconfidence, namun sebagai sebuah strategi. Pengenalan diri pada tingkat terbawah. Juga karena Pemilu 2009 menetapkan suara terbanyak, aspek pengenalan via pertontonkan profil diri bagai keniscayaan. Artinya berdiam diri pada saat ini riskan minim pemilih.

Kini 35 partai politik (parpol) akan bertarung di Serumpun Sebalai. Ada beberapa partai politik parpol besar dengan tokoh-tokoh besar, ada parpol baru dengan nama-nama cukup disegani, ada juga parpol baru dengan wajah-wajah baru tentunya. Semua punya agenda sama, meraup simpati. Bila 573 Caleg Berebut 45 Kursi DPRD Provinsi Bangka Belitung, dari angka ini menggunakan strategi unjuk poster diri, maka bisa dibayangkan keriuhan pesta ini. seandainya setiap caleg memasang 10 pernik komunikasi lengkap dengan foto diri, maka nanti akan ada 5730 baligho, spanduk atau pun kolom halaman harian kita akan terisi mereka-mereka ini. Belum lagi mereka-mereka yang bertarung di tingkatan DPRD Kabupaten dan Kota, tingkat DPR Pusat dan Dewan perwakilan Daerah (DPD).

Efektifkah?

Bagi pemilik percetakan, ini berkah tersendiri. Orderan cetak spanduk, baligho, atau poster akan membludak seiring mendekatnya waktu pemilu nanti. Bisnis sekitarannya juga tak kalah untung, semacam fotografer, desainer, tukang las, tukang kayu. mereka ini semacam elemen dalam rantai produksi hulu ke hilir produk iklan kampanye, hingga nanti pernik tadi terpasang dengan gagah di tempat umum. Untuk pemilik media, sudah jelas.

Apakah tebaran pernik media komunikasi ini efektif?, Belum bisa diketahui, selain belum ada penelitian ilmiahnya, berhasil atau tidak foto diri dalam meng_gol_kan caleg lolos ke kursi dewan baru diketahui, ketika perhitungan hasil pemilu KPUD resmi diliris beberapa bulan nanti.

Untuk saat ini, harapan minimaladalah pengenalan wajah, tebar-tebar pesona dahulu. Seiring berjalannya waktu, diharap masyarakat jadi terbiasa dengan wajah-wajah ini. Analoginya, semakin sering dipandang semakin lekat ia di hati. Syukur-syukur nanti, pada saat hari_H Pemilu, wajah-wajah yang sudah dikenal yang akan dicoblos.

Sesederhana itu kah?, tentu saja. Ataukah ini bagian dari strategi ?, bisa jadi. Awalnya pengenal, lalu kekuatan parpol yang akan bicara dalam meraup simpati. Tak bisa dipungkiri, kebesaran parpol turut mempengaruhi persepsi pilih memilih. Apalagi dengan pengaruh tokoh parpol itu sendiri.

Menggunakan pernik media komunikasi tadi dipandang dari sisi biaya, tidak terlalui mahal-mahal amat. Dibandingkan dengan kampanye via televisi, iklan per kolom di media cetak, atau kunjungan ke masyarakat pemilih. Poster dan sejenisnya lebih irit. Disamping itu, unsur awet pada pernik komunikasi grafis jadi faktor yang mendorong caleg untuk beramai-ramai mengiklankan diri.

Lama-lama diperhatikan, seolah-olah rupa-rupa komunikasi grafis yang nge-trend saat ini. Padahal opsi yang lain, terlalu banyak untuk dikatakan. Tak terfikirkan, atau bisa jadi “dak sangat renyek e”, “dak kawa nyusah e”. Akhirnya beramai-ramai tebar pesona lewat pernik begituan. Alih-alih berhasil mengenalkan diri, strategi pemasangan produk grafis pada area-area publik bisa menjadi tak efektif untuk keberhasilan kampanye. Bahkan berbalik arah. Menjadi senjata makan tuan. Sebab ketidak jituan hal ihwal mengiklankan diri. Meski dirasa-rasa sudah bagus.

Ketika mereka memampangkan wajah dan aksesoris kampanye pada ruang-ruang public, meriuhkan pemandangan kota, bergerombol rebut tempat, Wajah kita, wajah Serumpun Sebalai, Indonesia pada akhirnya adalah wajah ragam tanda, tanda tanya.

Strategi Jitu atau boomerang?

Sebagai sebuah tindakan politik, kampanye dimaksudkan pada pencapaian dukungan. Bentuknya berupa slogan, pembicaraan, barang cetakan, penyiaran barang rekaman berbentuk gambar atau suara, rupa-rupa bentuk ini berarah pada rekayasa Pencitraan, lalu berkembang ia pada upaya penyamaan atau pengenalan sebuah gagasan,isu maupun ideologi.

Termasuk, pada rupa-rupa komunikasi grafis diatas dengan ragamnya yang sekarang, diperbanyak, ditempatkan pada ruang publik. Merupakan bagian kampanye. Ia bisa menjadi penyebar pesan diri pribadi, selain mengkomunikasikan gagasan atau semangat yang diusung kepada masyarakat pemilih.

Ketika Ferdinand de Saussure memperkenalkan semiotika dalam ranah komunikasi, sebuah disiplin yang mengkaji bahasa, proses membahasa dan proses berbahasa. Bahwa dalam setiap obyek yang dipakai oleh seseorang untuk mengungkapkan sesuatu kepada orang lain, selalu memiliki peran gandanya sebagai “yang menandakan sesuatu” dan sekaligus sebagai “yang ditandakan”. Begitulah, ketika tebaran rupa-rupa atau pernik komunikasi tersebut ternyata tidaklah sesederhana benda mati terpancang di tanah. Ternyata ada tanda dan yang ditandakan pada tiap pernik media grafis tadi. Ragam makna jadinya.

Kalau menyaksikan iklan kampanye kota kita, sebenarnya tak begitu rumit karena unsur-unsur yang digunakan nampak sederhana. Walaupun begitu, pernik grafis paling sederhana pun tetap bermain dalam pengelolaan tanda. Bermain tanda dengan ramuan apik akan menghasilkan pesan (citra) tertentu. Dalam pandangan semiotika periklanan, ada dimensi-dimensi khusus pada sebuah iklan. Dimensi tersebut saling terkait dan mendukung untuk memperoleh sebuah citraan tertentu. Iklan, biasanya berisikan unsur-unsur tanda berupa objek (object) yang diiklankan, konteks (context) berupa lingkungan, orang atau makluk lainnya yang memberikan makna pada objek, serta teks (berupa tulisan) yang memperkuat makna (anchoring).

Foto diri, lalu diperkuat dengan slogan-slogan berbentuk teks, memberi makna tersendiri. Begitu pula mimik wajah, gerakan tubuh, pemilihan besar huruf, tebal tipis, dan elemen2 pendukung lainnya membentuk kesatuan tanda (signifier) . Besar kecil produk juga memberi pengaruh. Lokasi dan Posisi pemasangan dan jenis media itu sendiri sangat menentukan. Bukan benda sepintas lalu, tapi ia menjadi semacam penyebar pesan yang ternyata dapat dimaknai dengan subyektivitas masing-masing masyarakat.

Bahwa bahasa tulisan, menurut Saussure ternyata masuk pada salah satu dari sekian tanda. Serta ada lagi gambar atau simbol yang merupakan bahasa rupa didalamnya. Lagi-lagi, sebuah poster dengan poster yang lainnya dapat dimaknai berbeda, sebuah pernik grafis tadi bisa berarti sesuatu bagi sekelompok orang, sedang bagi kelompok lain ia bisa berarti sesuatu yang lain.

Poster atau baligho yang mampang di pinggiran dan simpangan jalan kota kita, pada umumnya memamerkan foto close Up, marginnya bisa disamping kiri, kanan atau tengah, dengan penempatan mencapai sekitar 50 persen halaman. Sisanya teks dan elemen tanda lainnya.

Ketika sebuah poster hanya menampilkan foto yang close up bisa berbeda artinya dengan semi full body. Yang close- up menandakan “biasa-biasa saja”, tampilan ini seperti di lembar pemilih nanti, lengkap dengan daftar urutannya. Signifier foto berupa semi utuh dapat saja mencerminkan kepercayaan diri. Begitu pula letaknya, apabila centering dan memenuhi lay out, ini mengacu pada pusat perhatian. Sedang yang berbagi dengan tanda lain secara proporsional dalam perwajahan pernik tadi, mengacu pada membagi kesempatan tanda untuk tampil dan terlihat.

Sekilas, Tampilan foto rata-rata berpeci dan berbaju koko, berjas safari atau seragam parpol. Yang berpeci dan berkoko, ingin menegaskan religiusitas dan kedekatan dengan mayoritas, sedang berjas mengacu pada kesan formal dan berwibawa. Lain lagi dengan berjas parpol, bisa mengacu pada kebesaran partai sendiri. Ada juga yang berbaju gaul khas anak muda sekarang, yang ini signified_nya seseorang yang “gaul banget”.

Begitupun pose seperti mengacungkan jari, ada seperti hendak bersalaman, mengacungkan jempol. Ini pose yang hidup, acuannya sebagai kedinamisan, yang close up tergantung juga. Pun seperti tampilan, foto KTP atau standar kartu nama, yah acuannya jadi biasa2 aja. Termasuk mimik wajah, apakah tertawa, senyum, datar. Tersenyum acuannya ke ramah tamah dan penuh kehangatan, sedang datar mengacu pada keseriusan dan formalitas. Yang tertawa, mengacu pada sosok yang humoris. Terakhir ini nampaknya tak ada.

Diperkuat dengan nomor caleg dalam tabel, fontnya diperbesar hingga sama besar, agar calon pemilih lihat jelas. Ada yang dipertegas dengan gambar bendera merah putih, bendera partai. Juga disandingkan dengan foto ketua umum partai politik atau pembesar di negeri ini, karena kebetulan sama partai. Kadang sama besar dengan foto caleg yang bersangkutan, bisa juga lebih kecil. Foto bersanding dengan pembesar ini mengacu pada dukungan dan restu politik.

Berikutnya pernik media tadi ditambahi teks, berbunyi mirip undangan nikahan, “Mohon Doa Restu”, acuannya adalah sang caleg minta izin untuk jadi maju ke pencalonan secara baik-baik. Teks yang intinya sebagai anchoring ini kesannya lagi-lagi biasa saja. Kesan dipergunakan beramai-ramai membuat teks ini jadi standar umum, tak ada yang special.

Mengapa kami memilih anda?, harusnya yang disampaikan. Teks yang berupa slogan, seperti “Mari Berubah,” “Bersih dan Peduli”, Atau teks seperti,”izinkan Saya Mewakili Anda”. Teks semacam ini mengacu pada jawaban atas tanya tadi. Bernada persuasive dan menggoda lebih baik dibandingkan “Mohon Doa Restu.”. Sebagai anchoring pada media komunikasi satu arah, harusnya teksnya benar-benar powerfull.

Jika di pinggiran jalan pernik media ini terpasang berjejer rapi, di persimpangan lampu merah, mereka bergerombol, seolah rebutan posisi. Ini baru awal-awal yang nanti bakal ramai, setelah ada penambahan bendera parpol, atau hari-hari besar. Riuh rendah poster, spanduk, baligho, bendera parpol di ruas sisi jalan, tiang-tiang bendera dan pohon-pohon dilibatkan seperti yang sudah-sudah. Di kampung saya, keramaian ini tertandingi saat perayaan 1 Muharram. Untuk ihwal penempatan, para caleg kita cukup jitu.

Yang terpenting adalah bagaimana kemasan pesan ini sampai ke masyarakat, berhasil pada tataran sikap (behavioural). Ujungnya memilih. Ketika dilihat, lalu diterima indera penglihatan terus prosesnya runtun didalam memori otak, kemudian dipersepsi (encoding) sesuai dengan backgrounders yang bisa berupa ideologi, norma-norma, akan timbul makna yang subyektif.

Itulah mengapa lalu konteks budaya menjadi satu acuan yang terikat bagi berhasil atau tidaknya komunikasi suatu iklan. Misalnya, iklan caleg berjas safari yang memiliki konotasi formalitas dan intelektualitas belum tentu sesuai dengan konteks budaya suatu kelompok masyarakat tertentu. Berjas safari bisa memiliki makna berbeda, seperti keberadaan kaum elit atau jetset yang selalu identik dengan berjas. Penanda (signifier) caleg berjas bisa memiliki petanda (signified) “orang elit ”. Tanda memang tidak dapat dilepaskan dengan konteksnya, sebagai contoh tanda lalu-lintas (lampu lalu-lintas) berguna pada saat dia dipasang di jalan raya. Tanda itu tidak akan ada gunanya apabila dipasang di ladang tebu di pedalaman suku terasing.

Akhirnya

Komunikasi bukan hanya sebagai proses, melainkan komunikasi sebagai pembangkitan makna (the generation of meaning) . Ketika kita berkomunikasi dengan orang lain, setidaknya orang lain tersebut memahami maksud pesan kita, kurang kebih secara tepat. Supaya komunikasi dapat terlaksana, maka kita harus membuat pesan dalam bentuk tanda (bahasa, kata). Pesan-pesan yang kita buat, medorong orang lain untuk menciptakan makna untuk dirinya sendiri yang terkait dalam beberapa hal dengan makna yang kita buat dalam pesan kita. Semakin banyak kita berbagi kode yang sama, makin banyak kita menggunakan sistim tanda yang sama, maka makin dekatlah “makna” kita dengan orang tersebut atas pesan yang datang pada masing-masing kita dengan orang lain tersebut

Ketika era sekarang kreatifitas dalam beriklan adalah tuntutan, seorang perancang iklan dituntut bagaimana dia harus keluar dari situasi yang disebut “me too” positioning (itu ke itu). Perancang iklan caleg seharusnya berusaha untuk lepas dari posisi “dari itu ke itu” saja. Referent/acuan yang seidealnya terbebas dari penampilan tokoh yang dewasa, pintar, mengayomi , dan sejenisnya, sehingga signifier-nya bergerak direntang pada kehadiran pria dewasa nan bijaksana dalam konteks seorang tokoh dewan terhormat. Berujung pada iklan kampanye kreatif juga powerfull menarik massa. Namun alih-alih kreatif, acuan tanda untuk referent itu-itu saja bahkan sulit di jumpai pada rupa-rupa media komunikasi grafis sekarang.

Bandingkan, baligho operator selular kita, 3 (Three), yang hanya menampilkan baligho hitam sahaja, lalu dipertegas dengan kalimat tanya berwarna putih?. Iklan ini menggelitik sekaligus merangsang otak. Rentetan tanda disampaikan secara runut, dari awal disodori tanda tanya lalu di hari berikutnya kelebihan-kelebihannya, baru diakhir, diketahui apa itu 3 (three). Konsep pemasarannya kreatif. Sekreatif, operator lainnya, yang menggunakan tanda berupa monyet sebagai signifier. Ini beda tapi, meminjam istilah sekarang,”Kereeeen”.

Kata Roland Barthes dalam “The Death of Author”, bahwa ketika tanda (iklan) telah terlahir dan tertayangkan maka “pengarang telah mati”. Dalam arti tidak ada kuasa iklan (orang di balik iklan). Kuasa berada di publik. Masyarakat bebas menafsirkan sendiri maksud dari iklan yang muncul.

Sekali lagi, bermain-main dengan rupa-rupa komunikasi grafis satu arah ini ibarat melempar umpan ke sungai, bila tepat banyak yang akan tertangkap, namun seperti boomerang, ketidakjituan melempar bisa-bisa berbalik arah dan menciptakan jurang antara caleg dan calon pemilih.***
  • i