Rabu, 24 Desember 2008

Balada Waitbod II

>Dalam dunia berkirim pesan, white board jadi elemen dalam rentetan arus pesan. Fungsi penghantar ini sama dengan hp, televisi, koran,radio, dan sahabatnya yang lain.

Sebagai penyempurnaan dari papan tulis kapur, ia berdiri kokoh dalam kecanggihannya. Tak perlu penghapus, jadi tak usah susah2 menampar2nya ke dinding agar menghitamkannya lagi, tak guna lagi kapur tulis, sebab spidol lebih bersih tangan, paling tidak tak ada murid yang kena lemparan spidol.

Dalam bentuk purba, ketika bebatuan masih berlaku di dunia fosil, terus beranjak naik ke papan tulis kapur untuk ruang-ruang sekolah, media tulis ini mem_publik_kan dirinya dalam panggung peradaban. Ketika ia lalu menjadi aksesoris di ruang-ruang kantor. Itu sebelum era OHP, dan proyektor menggerusnya, melangkahi kegagahannya, menanggalkan ia dari bidang kosong di ruang-ruang publik.

Lalu kita tak perlu bertanya ada apa?, juga mengapa?, sebab sebagai produk budaya, ia dinamis tak statis. Tak kena hukum keabadian seperti halnya cinta. Di abad yang lalu cinta Shakespeare kepada kekasih masih berwujud hingga kini, berbunga-bunga dan berkembang…lalu terbang.

Agak susah sekarang menemukan whiteboard bin papan tulis…waktu telah menghapusnya dari realitas, sehingga yang tampak nanti hanya kata, “White board dengan penjelas.” Kasusnya mirip dengan telegraf, yang sekali dua di perbincangkan dalam kaca mata bernostalgia.

Mengkinikan benda ibarat menaiki gunung kemajuan, pada tanjakan berikutnya pilihan harus menjatuhkan benda, bukankah beban yang ringan membuat ringan kaki?, pilih memilih perangkat masuk akal ketika wajah dialihkan ke depan, pada konsep akhir “KEMAJUAN”.

Sehingga sekali lagi, yang abadi hanyalah kemanusiaan, kemerdekaan, kebebasan, impian dan cinta. Apakah karena keabstrakannya?, atau kesukaran pemahaman yang bikin golongan kesadaran ini awet dalam isu-isu modernitas.

Memperbincangkan produk budaya seperti menelaah laman demi laman sejarah manusia. Produk tak awet, namun darinya sejarah manusia disibak. Diurai-urai lantas menjadi kumpulan pengetahuan atau tunjuk ajar keduniaan. (Continued)
  • i

Kamis, 11 Desember 2008

Balada WaitBod

>

A whiteboard (also known as a markerboard, dry-erase board, dry-wipe board or a pen-board, but not a greaseboard) is a name for any glossy surface, most commonly colored white, where non-permanent markings can be made. Whiteboards operate analogously to chalkboards in that they allow markings to temporarily adhere to the surface of the board. The popularity of whiteboards increased rapidly in the mid-1990s and they have become a fixture in many offices, meeting rooms, school classrooms, and other work environments.[1] http://en.wikipedia.org/wiki/Whiteboard

Apabila menoleh ke belakang, aku tak melihat dinding beton kosong bercat putih kusam., pun ketika melewatinya, engkau diapit antara dia dan meja oval memanjang. Ruangan 5x5 meter ini adalah tempatnya tergantung erat berpaku beton dua buah.

Dulu untuk memakunya, diperlukan sejumlah paku besi, tak cukup dua. Sekali ketok, paku tersebut meliuk-liuk tak kuat menembus dinding beton. Kadang mereka terpelanting ke segala arah. Dulu aku sempat berfikir, ia bakal terjatuh sebab paku tak dalam menusuk. Tapi kini, ia tetap kokoh.

Beratnya lumayan, sendirian tak kuat mengangkatnya, bentuknya memanjang 2,5 m melebar 1,5 m membuatnya agak susah di_handle. Difigura bahan kayu motif coklat natural bealur-alur membuatnya khas seolah dikelilingi batang pohon. Figura tersebut membingkai triplek putih licin berbahan melamin.

White board ini hadir hampir dua tahun, tak kerasa bukan?, untuk menghadirkannya kedunia, harus melewati sejumlah langkah birokrasi. Bikin surat Pengajuannya, tanda tangan ketua suku, waktu tunggu,yang semuanya memakan waktu hampir 3 bulanan…jadilah ia mampang di bidang kosong dinding kantor ini.

Kini, setahun sudah coretan spidol melekat diatasnya…tak berdasar prinsip tata letak, tak bernuansa artistic, tak ada warna warni..hanya hitam legam memenuhi hingga tak tersisa ruang kosong---(Continued)




  • i

Rabu, 10 Desember 2008

Saat Gundah

>Galau aku pada pagi ini...tak lelah mata terbuka..sedang nanti ada asa hendak ditunai,apakah ini pertanda jelas,lembar takdir harus ku buka.
Beberapa malam lalu,galau ku menyapu langit kamar,ke atap rumah..semacam pijar kecil berkilau kilau..membuatku terjaga.
Pagi ini,memuncak..galau ku menusuk lemari memori,menjatuhkan helai wajah wajah terkasih..ia,dia,mereka..masih bisa kurasa belai,meski ini sebuah senyum teringai dalam bingkai utopia kejam.
Aku kesal pada aku sahaja...terlalu larut pada api berkobar,lalu yang tampak pada ku,setitik ia pada jelaga hitam,tak bernilai.Kilau galau ku bergrafik ria.Mencoba aku bersenandung,tapi mengapa hanya rinai ratap yg mengairi relung hati,Galau aku pada cinta..yang seringkali aku tertatih pada akhir kisah..Aku berbakat menanam benih,namun malang dihadapan,seperti ini..galau menghitamkan semuanya...
Kenanga, 01:58am, Mon 08-12-2008
  • i