Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2008

Balada Waitbod II

Dalam dunia berkirim pesan, white board jadi elemen dalam rentetan arus pesan. Fungsi penghantar ini sama dengan hp, televisi, koran,radio, dan sahabatnya yang lain.

Sebagai penyempurnaan dari papan tulis kapur, ia berdiri kokoh dalam kecanggihannya. Tak perlu penghapus, jadi tak usah susah2 menampar2nya ke dinding agar menghitamkannya lagi, tak guna lagi kapur tulis, sebab spidol lebih bersih tangan, paling tidak tak ada murid yang kena lemparan spidol.

Dalam bentuk purba, ketika bebatuan masih berlaku di dunia fosil, terus beranjak naik ke papan tulis kapur untuk ruang-ruang sekolah, media tulis ini mem_publik_kan dirinya dalam panggung peradaban. Ketika ia lalu menjadi aksesoris di ruang-ruang kantor. Itu sebelum era OHP, dan proyektor menggerusnya, melangkahi kegagahannya, menanggalkan ia dari bidang kosong di ruang-ruang publik.

Lalu kita tak perlu bertanya ada apa?, juga mengapa?, sebab sebagai produk budaya, ia dinamis tak statis. Tak kena hukum keabadian seperti halnya cinta. Di…

Balada WaitBod

A whiteboard (also known as a markerboard, dry-erase board, dry-wipe board or a pen-board, but not a greaseboard) is a name for any glossy surface, most commonly colored white, where non-permanent markings can be made. Whiteboards operate analogously to chalkboards in that they allow markings to temporarily adhere to the surface of the board. The popularity of whiteboards increased rapidly in the mid-1990s and they have become a fixture in many offices, meeting rooms, school classrooms, and other work environments.[1] http://en.wikipedia.org/wiki/Whiteboard

Apabila menoleh ke belakang, aku tak melihat dinding beton kosong bercat putih kusam., pun ketika melewatinya, engkau diapit antara dia dan meja oval memanjang. Ruangan 5x5 meter ini adalah tempatnya tergantung erat berpaku beton dua buah.

Dulu untuk memakunya, diperlukan sejumlah paku besi, tak cukup dua. Sekali ketok, paku tersebut meliuk-liuk tak kuat menembus dinding beton. Kadang mereka terpelanting ke segala arah. Dulu aku semp…

Saat Gundah

Galau aku pada pagi ini...tak lelah mata terbuka..sedang nanti ada asa hendak ditunai,apakah ini pertanda jelas,lembar takdir harus ku buka.
Beberapa malam lalu,galau ku menyapu langit kamar,ke atap rumah..semacam pijar kecil berkilau kilau..membuatku terjaga.
Pagi ini,memuncak..galau ku menusuk lemari memori,menjatuhkan helai wajah wajah terkasih..ia,dia,mereka..masih bisa kurasa belai,meski ini sebuah senyum teringai dalam bingkai utopia kejam.
Aku kesal pada aku sahaja...terlalu larut pada api berkobar,lalu yang tampak pada ku,setitik ia pada jelaga hitam,tak bernilai.Kilau galau ku bergrafik ria.Mencoba aku bersenandung,tapi mengapa hanya rinai ratap yg mengairi relung hati,Galau aku pada cinta..yang seringkali aku tertatih pada akhir kisah..Aku berbakat menanam benih,namun malang dihadapan,seperti ini..galau menghitamkan semuanya...
Kenanga, 01:58am, Mon 08-12-2008